Minggu, 13 September 2009

Manfaat Daun Katu

Oleh: Prof. Urip santoso

Setelah manusia mengarungi samudra dunia modern dengan segala kemudahan sebagai hasil perkembangan teknologi, manusia mulai menyadari bahwa segala sesuatu yang tidak seimbang, tidak fitrah atau tidak alami dapat membawa akibat kurang baik bagi kesehatannya. Perubahan pola makan manusia modern ternyata mengakibatkan berbagai penyakit yang dahulunya kurang dominan sebagai penyebab kematian, sekarang menduduki peringkat atas. Semakin hari semakin banyak manusia yang terkena kanker, stroke, penyakit penyempitan pembuluh darah, penyakit jantung, kencing manis, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya, sebagai akibat salah makan atau makan yang berlebihan.


Hal ini kemudian memicu masyarakat untuk kembali ke alam. Diyakini bahwa sesuatu yang alami baik pada pola pangan, ataupun penggunaan bahan alami sebagai obat akan membawa efek negatif yang lebih sedikit. Dengan demikian, umur fisiologis dari sel dapat diperpanjang. Di Eropa dan Amerika Serikat misalnya, penggunaan tumbuhan obat sebagai alternatif obat kimia telah banyak di teliti dan diproduksi. Tumbuhan obat juga telah banyak diteliti untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak.

Indonesia dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya, mempunyai potensi yang sangat besar untuk menyediakan obat alami, mengingat banyak tumbuhan obat yang tumbuh dengan baik. Sejak jaman dulu bangsa Indonesia telah mengenal tumbuhan obat dan memanfaatkannya untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Pemanfaatan tumbuhan obat tersebut diperoleh berdasarkan empirik dan pengalaman yang diturunkan dari nenek moyang kita. Pengobatan dengan bahan asal tumbuhan disebut fitoterapi yang dalam penerapannya pada waktu ini dikenal dalam bentuk jamu dan fitofarma.

Sampai dengan pertengahan abad XX fitoterapi memegang peranan penting untuk upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit. Setelah mengalami masa surut akibat desakan bahan aktif hasil sintesis kimia, pada 20 tahun terakhir ini bahan obat asal tumbuh-tumbuhan semakin mendapat perhatian kembali, baik sebagai obat tradisional jamu, fitofarma maupun sumber senyawa murni. Kecenderungan ini banyak didorong oleh berbagai kejadian buruk akibat obat yang berasal dari senyawa kimia hasil sintesis dan juga tidak lepas dari kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terkait, seperti botani, kimia, farmasi dan farmakologi yang memungkinkan konsep metode berdasar dan lebih pasti atas khasiat sediaannya. Oleh karena itu, khasiatnya tidak usah diragukan lagi.

Sediaan asal tumbuhan yang sudah jelas khasiat, keamanan dan stabilitasnya disebut fitofarmaka. Jadi, industri fitofarmaka adalah industri farmasi yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan dan merupakan produk IPTEK tumbuhan obat. Pengembangan industri fitofarmaka akan mendorong usaha pelestarian tumbuhan obat dan industri budidaya tanaman obat, simplisia, sediaan galenik, fraksi atau kelompok senyawa bioaktif yang mempunyai mutu standar dan lebih jauh ke arah kemoterapi.

Salah satu tumbuhan obat yang berpotensi besar namun belum banyak dilirik dan dikembangkan sebagai komoditas unggulan adalah “katuk” (Sauropus androgynus).



Komposisi Gizi Daun Katuk

Daun katuk kaya akan besi, provitamin A dalam bentuk β-carotene, vitamin C, minyak sayur, protein dan mineral lainnya.

Dalam 100 gram daun katuk mengandung 72 kalori, 70 gram air, 4,8 gram protein, 2 gram lemak, 11 gram karbohidrat, 2,2 gram mineral, 24 mg kalsium, 83 mg fosfor, 2,7 mg besi, 31,11 µg vitamin D, 0,10 mg vitamin B6 dan 200 mg vitamin C.

Depkes melaporkan bahwa pada daun katuk segar mengandung energi 59 kalori, protein 6,4 gram, lemak 1,6 gram, karbohidrat 9,9 gram, serat 1,5 gram, abu 1,7 gram, kalsium 233 mg, fosfor 98 mg, besi 3,5 mg, β-carotene 10020 µg, vitamin C 164 mg dan air 81 gram. Pada daun rebus kalori 53 kalori, protein 5,3 gram, lemak 0,9 gram, serat 1,2 gram, karbohidrat 9,1 gram, abu 1,4 gram, kalsium 185 mg, fosfor 102 mg, besi 3,1 mg, β-carotene 9000 µg, vitamin C 66 mg, dan air 83,3 gram.

Daun katuk tua terkandung air 10,8%, lemak 20,8%, protein kasar, 15.0%, serat kasar 31,2%, abu 12,7%, dan BETN 10.2%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tepung daun katuk mengandung air 12%, abu 8,91%, lemak 26,32%, protein 23,13%, karbohidrat 29,64%, β-carotene (mg/100 g) 165,05 dan energi (kal) 134,10.

Selain zat-zat gizi tersebut di atas, daun katuk juga mengandung senyawa metabolik sekunder yaitu monomrthyl succinate dan cis-2-methyl cyclopentanol asetat (ester), asam benzoat dan asam fenil malonat (asam karboksilat), 2-pyrolodinon dan methyl pyroglutamate (alkaloid), saponin, flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa tersebut sangat penting dalam metabolisme lemak, karbohidrat dan protein dalam tubuh.

Dari uraian tersebut, maka daun katuk sangat baik untuk dikonsumsi sebagai sayuran.



Daun Katuk sebagai Antikuman

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun katuk juga mempunyai sifat antikuman dan antiprotozoa. Daun dan akar katuk sering digunakan sebagai obat luar untuk mengobati borok, bisul, koreng, demam, darah kotor dan frambusia. Zat yang berfungsi sebagai antikuman pada daun katuk diduga adalah tanin dan flavonoid. Tanin bersifat toksis terhadap fungi berfilamen, bakteri maupun ragi. Mekanisme kerjanya adalah sebagai berikut, yaitu berdasarkan sifat astrigensinya dapat menghambat enzim tertentu; berdasarkan aksi terhadap membran; dan berdasarkan pembentukan kompleks tanin dengan ion logam. Selain itu, dalam daun katuk juga terdapat senyawa alkaloid yang juga bersifat antiprotozoa dan antikuman. Ekstrak metanol, ekstrak eter dan ekstrak n-butanol daun katuk mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhosa.

Daun katuk diekstrak dengan air panas mampu menurunkan jumlah Salmonella sp., Escherichia coli dan Streptococcus sp, tetapi tidak menurunkan jumlah Bacillus subtilis dan Lactobacillus sp. pada kotoran ayam broiler. Bahkan pada level pemberian 1,5 g/l air ekstrak tersebut mampu meningkatkan jumlah Lactobacillus sp dan Bacillus subtilis. Lactobacillus sp merupakan salah satu mikrobia efektif, yang mempunyai peranan penting dalam kesehatan baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan.

Kotoran ternak yang banyak mengandung Lactobacillus sp. ini merupakan bahan pupuk organik yang sangat baik serta dapat memperbaiki struktur tanah. Mereka juga dapat memperbaiki produktivitas tanaman. Selain itu, mereka mempunyai peranan penting dalam menurunkan logam berat pada suatu bahan.

Pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg ransum juga menurunkan jumlah Salmonella sp dan Escherichia coli pada daging broiler. Penurunan Salmonella sp. baik pada daging dan kotoran merupakan indikasi bahwa tingkat kontaminasi produk ternak dapat ditekan dengan pemberian ekstrak daun katuk. Dengan demikian, kemungkinan konsumen terkena penyakit akibat mengkonsumsi daging menjadi berkurang. Pemberian ekstrak daun katuk pada ayam petelur juga mampu menekan jumlah Salmonella sp., Staphylococcus sp., Escherichia coli pada kotoran ayam petelur.

Dari uraian tersebut di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa daun katuk dapat dikembangkan menjadi obat berbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli baik pada manusia maupun pada hewan seperti penyakit mencret, obat bisul, borok, dan kemungkinan obat tipus. Ini merupakan tantangan bagi para peneliti dibidang farmasi dan kedokteran untuk mengembangkan obat untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut di atas.

Hasil penelitian juga membuktikan ekstrak daun katuk mampu menekan jumlah Salmonella sp dan Escherichia coli pada daging broiler. Ekstrak daun katuk juga terbukti mampu menekan jumlah Salmonella sp dan Staphylococcus sp pada kerabang telur.



Katuk Pelancar ASI

Dari pengalaman empirik, daun katuk memiliki khasiat memperlancar produksi susu baik pada manusia maupun pada hewan. Pada ibu-ibu yang mengalami gangguan pengeluaran air susu, maka biasanya mereka memakan antara lain daun katuk ini. Injeksikan ekstrak daun katuk kepada kelinci terbukti meningkatkan produksi air susu. Injeksi ekstrak daun katuk juga mampu meningkatkan produksi air susu sebesar 20% pada kambing perah. Injeksi ekstrak ini tidak mengubah kadar lemak, protein dan bahan kering tanpa lemak air susu kambing. Pada aktivitas metabolisme glukosa terjadi peningkatan sebesar lebih dari 50% yang berarti kelenjar ambing bekerja lebih ekstra untuk mensintesis air susu.

Oleh karena daun katuk kaya akan β-carotene, maka konsumsi daun katuk dalam jumlah tertentu diduga akan meningkatkan kadar vitamin A dalam susu. Selain itu dapat memperkaya kadar vitamin C dan mineral terutama zat besi.

Penggunaan daun katuk dalam jamu berbungkus juga telah dilakukan oleh pengusaha jamu, meskipun masih belum banyak. Jamu tersebut mempunyai fungsi untuk memperlancar air susu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi daun katuk oleh ibu-ibu menyusui akan meningkatkan waktu menyusui bayi perempuan. Sedangkan pada bayi laki-laki tampak hanya kecenderungan peningkatan frekuensi dan lama menyusui jika mengkonsumsi daun katuk. Hal ini menunjukkan bahwa memang mengkonsumsi daun katuk dapat meningkatkan produksi air susu ibu.

Kemampuan menyuburkan air susu berhubungan dengan peranannya dalam refleks prolaktin, yaitu refleks yang merangsang alveoli untuk memproduksi susu. Refleks ini dihasilkan dari reaksi antara prolaktin dengan hormon adrenal steroid dan tiroksin. Daun katuk mengandung polifenol dan steroid yang berperan dalam refleks prolaktin.



Daun Katuk sebagai Antilemak

Pemberian tepung daun sebanyak 30 g/kg ransum memberikan akumulasi lemak yang terendah. Turunnya akumulasi lemak oleh katuk diduga disebabkan oleh zat aktif yang ada dalam daun katuk. Daun katuk mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Telah diketahui bahwa ketiga zat tersebut mempunyai khasiat untuk menurunkan akumulasi lemak.

Penelitian dilanjutkan dengan pemberian ekstrak daun katuk ke dalam air minum, dan ditemukan bahwa pemberian ekstrak daun katuk menurunkan akumulasi lemak perut, hati dan lemak karkas. Pemberian ekstrak daun katuk sebesar 4,5 g/l air memberikan akumulasi lemak yang paling rendah. Penelitian tersebut diperkuat dengan pemberian ekstrak daun katuk ke dalam ransum broiler sebesar 18 g/kg ransum mampu menurunkan akumulasi lemak pada perut.
Penelitian kemudian dilanjutkan untuk mengevaluasi pengaruh lama pemberian ekstrak daun katuk terhadap akumulasi lemak. Diperoleh hasil bahwa pada broiler pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg ransum selama 28 hari memberikan akumulasi lemak yang paling rendah. Sementara Gusmawati (2000) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg ransum selama 2 minggu sangat efektif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan dan meningkatkan keuntungan peternak.

Pemberian ekstrak daun katuk pada ayam petelur menurunkan kandungan kolesterol, trigliserida, dan LDL-kolesterol (kolesterol jahat) tetapi menaikkan HDL-kolesterol (kolesterol baik) dalam serum. Selain itu juga ekstrak daun katuk menurunkan kadar kolesterol telur sebesar 40%. Ekstrak etanol dari daun katuk selain mampu menurunkan kolesterol telur juga mampu menurunkan kadar trigliserida pada telur.



Peningkatan Performans Ayam Pedaging

Pemberian tepung daun katuk ternyata mampu meningkatkan performans broilers. Pemberian tepung daun katuk cenderung menurunkan berat badan, mennurunkan konsumsi pakan dan memperbaiki konversi pakan.

Pemberian tepung daun katuk menurunkan konsumsi pakan. Seperti yang diketahui bahwa daun katuk mengandung alkaloid tertentu. Alkaloid tersebut jika dikonsumsi akan dioksidasi dalam hati, yang kemudian menghasilkan metabolit seperti “dehydrosparteine”. Pengaruh metabolik alkaloid dan metabolitnya adalah terutama menghambat neural. Hal ini menyebabkan antipalatabilitas yang berarti menurunkan konsumsi pakan. Pengaruh antipalatabilitas saponin juga disebabkan oleh pengaruh penghambatan neurologik.

Selain itu, pemberian tepung daun katuk cenderung menurunkan pertumbuhan broiler. Daun katuk mengandung tanin dan saponin. Secara umum, tanin menyebabkan gangguan pada proses pencernaan dalam saluran pencernaan sehingga menurunkan pertumbuhan. Selain itu, saponin meningkatkan permeabilitas sel mukosa usus halus, yang berakibat penghambatan transport nutrisi aktif dan menyebabkan pengambilan/penyerapan zat-zat gizi dalam saluran pencernaan menjadi terganggu. Unggas lebih sensitif terhadap saponin daripada ternak monogastrik lainnya. Hal ini menyebabkan turunnya pertambahan berat badan.

Untuk mengurangi pengaruh tanin dan saponin, maka kemudian dilakukan ekstraksi dengan air panas. Air panas yang mengurangi kandungan saponin dan tanin dalam suatu bahan pakan. Ternyata pemberian ekstrak daun katuk cenderung meningkatkan pertambahan berat badan dan menurunkan konversi pakan. Penurunan konversi pakan dan peningkatan pertambahan berat badan dapat dijelaskan oleh karena diduga kandungan tanin dan saponin dalam ekstrak menurun dikarenakan proses perebusan dalam air panas. Namun demikian, pada level pemberian tertentu konsumsi pakan masih cenderung turun.

Pada penelitian selanjutnya ekstrak daun katuk ditambahkan ke dalam pakan komersial sebanyak 0 g, 9 g, 13,5 g, atau 18 g/kg pakan. Pemberian ekstrak daun katuk yang disuplementasi ke dalam pakan broiler sebesar 18 g/kg pakan memberikan pertambahan berat badan tertinggi dengan konversi pakan terendah. Namun, pemberian ekstrak tersebut menurunkan konsumsi pakan jika dibandingkan dengan kontrol. Belum diketahui sebabnya mengapa pada tingkat pemberian 13,5 g/kg pakan menghasilkan performans yang jelek.

Pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg ransum selama 2 minggu dari umur 28-42 hari cenderung meningkatkan pertambahan berat badan broiler dan menurunkan konversi pakan atau meningkatkan efisiensi penggunaan pakan serta memberikan keuntungan yang lebih besar sebanyak RP 278,-/ekor.

Pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 g/kg ransum selama 2 minggu tidak memperbaiki kualitas karkas pada broiler. Perbaikan kualitas karkas baru terjadi jika pemberian ekstrak daun katuk selama 1 bulan. Perbaikan kualitas karkas ditandai dengan kecenderungan menurunnya persentase susut masak, meningkatnya lingkar drumstick, menurunnya bau amis karkas, dan menurunnya lemak perut.

Secara keseluruhan dapat dinyatakan bahwa pemberian tepung daun katuk dan ekstraknya pada tingkat pemberian tertentu dapat memperbaiki performans broiler dengan cara meningkatkan pertambahan berat badan dan menurunkan konversi pakan. Satu hal yang menjadi tanda tanya adalah mekanisme turunnya konsumsi pakan oleh ekstak daun katuk tersebut. Ada beberapa asumsi yang dapat menjelaskan hal tersebut. Pertama, perebusan daun katuk dalam suhu 90­oC selama 20 menit belum mampu sepenuhnya menghilangkan tanin dan saponin dalam ekstrak, sehingga hal ini menjadi salah satu sebab turunnya konsumsi pakan. Kedua, adalah bahwa dalam daun katuk tersebut masih terdapat zat-zat antinutrisi yang menyebabkan turunnya konsumsi pakan yang tidak rusak hanya oleh perebusan. Ketiga, adalah kombinasi dari kedua asumsi tersebut di atas. Oleh sebab itu, meningkatnya efisiensi penggunaan pakan oleh ekstrak daun katuk mungkin lebih disebabkan oleh faktor lain daripada turunnya level level zat antinutrisi dalam katuk. Penurunan efisiensi pakan mungkin lebih disebabkan oleh membaiknya keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan dimana dengan pemberian ekstrak katuk menekan pertumbuhan dimikrobi pathogen seperti Salmonella sp., Escherichia coli tanpa menekan dan bahan meningkatkan pertumbuhan mikrobia efektif seperti Lactobacillus sp dalam saluran pencernaan. Dengan semakin baiknya keadaan flora-fauna dalam saluran pencernaan itu, pemecahan, asimilasi dan penyerapan zat-zat gizi menjadi lebih baik.



Peningkatan Kualitas Karkas Ayam Pedaging

Warna daging cenderung menurun pada daging yang diberikan ekstrak katuk yang semakin meningkat. Penurunan warna daging diduga disebabkan oleh menurunnya konsentrasi oksimyoglobin. Telah diketahui bahwa daun katuk banyak mengandung tanin. Tanin dapat mengikat zat besi yang dibutuhkan untuk membentuk oksimioglobin. Dengan demikian ketersediaan zat besi bagi pembentukannya menjadi menurun. Sebagai akibatnya, warna daging menurun. Meskipun selama pembuatan ekstrak kemungkinan banyak zat tanin yang rusak, namun kemungkinan besar zat tannin yang terkandung di dalam ekstrak masih cukup besar. Untuk mengurangi pengaruh zat tannin, maka diperlukan perbaikan metode ekstraksi daun katuk, agar diperoleh ekstrak yang bebas tanin.

Pemberian ekstrak daun katuk juga mampu meningkatkan warna kuning pada kaki dan kulit karkas broiler. Hal ini sangat wajar karena ekstrak daun katuk ini kaya akan β-carotene.

Angka yang semakin tinggi pada nilai bau menunjukkan bahwa bau amis dan bau daging lainnya semakin menurun. Pemberian ekstrak katuk ternyata mampu menurunkan bau amis daging. Bau daging dipengaruhi oleh perubahan ATP menjadi hipoksantin setelah ternak dipotong. Semakin tinggi ATP yang diubah menjadi hiposaknin semakin tinggi pula bau daging. Bau amis daging disebabkan oleh berbagai zat kimia, antara lain adalah oleh asam lemak-asam lemak tertentu.

Pemberian ekstrak katuk ternyata mampu meningkatkan rasa daging. Peningkatan rasa daging dipengaruhi oleh beberapa zat kimia. Pada daging ayam, inosinin monofosfat (IMP), K+ dan asam glutamat sangat berperan dalam penentuan rasa daging ayam. Perubahan ATP menjadi IMP sangat menentukan rasa daging. Ekstrak daun katuk kaya akan mineral kalium dan metilpiroglutamat yang dalam tubuh dapat diubah menjadi asam glutamat. Kalium dan asam glutamat merupakan senyawa utama penyebab rasa enak pada daging broiler.

Selain itu, ekstrak daun katuk juga mampu menurunkan susut masak daging ayam. Daging dengan susut masak yang rendah mempunyai kualitas daging yang lebih baik, karena kehilangan nutrisi selama pemasakan akan lebih sedikit. Semakin rendahnya susut masak oleh ekstrak daun katuk mungkin disebabkan oleh meningkatnya protein daging. Semakin meningkatnya protein daging maka kemampuannya untuk mengikat air akan meningkat sehingga cairan yang keluar selama pemasakan akan terhambat. Peningkatan protein daging oleh pemberian ekstrak daun katuk sangat mungkin karena ekstrak tersebut kaya akan protein.

Pemberian ekstrak daun katuk juga mampu menurunkan cacat pada paha dan dada. Cacat dada dan paha yang tinggi dapat menurunkan mutu karkas yang berarti harganya pun akan lebih rendah. Namun dalam hal ini juga menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk mampu meningkatkan kualitas daging ayam.

Pemberian ekstrak daun katuk juga mampu menurunkan persentase berat punggung pada broiler. Hal ini sangat menguntungkan bagi produsen pemroses ayam broiler, karena harga punggung broiler relatif rendah.



Penurunan Produksi Amonia

Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk mampu menurunkan bau kandang/kotoran broiler yang disebabkan oleh gas amonia dan gas lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, maka diduga bahwa produksi gas amonia pada broiler menurun. Kemungkinan penurunan gas amonia tersebut didukung oleh data bahwa pemberian ekstrak daun katuk mampu meningkatkan Lactobacillus dan Bacillus subtilis dalam kotoran ternak. Bacillus subtilis telah terbukti mampu menurunkan kadar gas amonia pada kandang unggas. Lactobacillus juga diduga mampu menghambat pertumbuhan mikrobia pemecah asam urat dan urea sehingga pembentukan gas ammonia menjadi terhambat.



Peningkatan Produksi Susu Pada Ternak

Hasil uji coba pendahuluan pada kelinci diperoleh hasil bahwa daun katuk mengandung zat aktif yang bekerja pada mioepithelium kelenjar ambing (oxytosin-like substance). Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut di atas maka dilakukan penelitian pada kambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian larutan ekstrak daun katuk 20% melalui abomasums pada kambing laktasi mampu meningkatkan produksi susu sebesar 20% jika dibandingkan dengan kambing laktasi tanpa ekstrak daun katuk. Hasil lainnya adalah bahwa susu dengan ekstrak ini tidak mengubah komposisi susu terutama kadar lemak, protein dan tanpa kering lemak. Pada aktifitas metabolisme glukosa terjadi peningkatan sebesar lebih dari 50%, yang berarti kelenjar ambing bekerja lebih ekstra untuk mensintesa susu.

Hasil riset terakhir yang dilakukan Agik Suprayogi menunjukkan bahwa daun katuk ternyata dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi air susu kambing laktasi hingga 7,75%. Cara pemberian yang terbaik adalah dengan pemberian secara oral, dan daun katuknya berbetuk kering giling (powder) sebanyak 7,44 g/hari. Peningkatan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian ekstrak daun katuk dosis 1,89 g/hari, yang peningkatannya hanya 0.89%. peningkatan produksi air susu ini terjadi karena senyawa aktif daun katuk mampu meningkatkan populasi sel-sel sekretorik di kelenjar ambing yang dibarengi dengan peningkatan aktifitas sistesis sel-sel sekretorik tersebut. Disamping itu, pada saat yang sama senyawa aktif daun katuk juga mampu meningkatkan ketersediaan nutrisi dalam darah yang menuju ke kelenjar ambing.



Penggunaan Daun Katuk pada Ayam Petelur

Ekstrak daun katuk meningkatkan produksi telur, berat badan dan efisiensi produksi pada ayam petelur. Namun, daun katuk tidak meningkatkan HU, warna kuning telur, tebal kerabang telur, dan tidak menurunkan rongga udara pada telur. Ini berarti ekstrak daun katuk tidak meningkatkan kualitas telur.



Kegunaan Katuk Lainnya

hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelinci, ekstrak daun katuk (infus) mampu menurunkan suhu rektal. Oleh sebab itu ekstrak daun katuk kemungkinan dapat digunakan sebagai obat demam. Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pada broiler ekstrak daun katuk tidak mempunyai efek pada suhu rektal.

Kegunaan lainnya adalah bahwa ekstrak daun katuk dapat menurunkan tekanan darah, merendahkan frekuensi dan amplitudo denyut jantung, dan menurunkan suhu badan. Selain itu untuk membersihkan darah yang kotor.

Daun dan akar katuk mempunyai fungsi sebagai pelancar air seni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus akar katuk mempunyai efek antipiretik pada merpati, dan pada pen gamatan fisik ada indikasi diuresis. Pemberian infus akar katuk meningkatkan volume air kencing. Meskipun demikian, cara kerja infus katuk pada proses diuresis belum dikatahui. Akarnya jika direbus juga dapat dijadikan obat demam, dan sebagai obat luar terhadap frambusia.

Selain itu, daun katuk juga digunakan untuk pewarna makanan, menurunkan demam. Jus daun katuk dapat digunakan untuk menyembuhan penyakit mata dan pelangsing tubuh pada manusia.

Bila daunnya diremas-remas dengan tangan dapat memberikan warna hijau kepada beberapa makanan seperti kelepon, tape dan ketan. Dapat dinyatakan bahwa daun katuk merupakan sumber zat warna yang mempunyai fungsi ganda. Disamping sebagai pewarna hijau pada bahan pangan, ia juga dapat sebagai sumber provitamin A. buahnya yang kecil dan berwarna putuh kadang-kadang dibuat manisan.

Ekstrak daun katuk juga telah terbukti mampu menurunkan angka kelainan kaki pada broiler. Penurunan kelainan kaki ini sangat bermanfaat bagi peningkatan produktivitas broiler. Analisis regresi menunjukkan bahwa semakin tinggi pemberian EDK akan semakin menurunkan kelainan kaki pada broiler dengan mengikuti persamaan Y=1,303 -0,0075 X (r=-0,97). Jika dihitung berdasarkan persentase, maka penurunan kelainan kaki adalah berturut-turut 12,0%, 21,8%, 24,8%, untuk 1,5 g, 3,0 g, dan 4,5 g EDK. Dalam skala komersial kelainan kaki kurang lebih 1-2% dari total populasi ayam broiler. Jika kita memlihara broiler sebanyak 100.000 ekor maka kelainan kaki berkisar antara 1000-2000 ekor. Dengan pemberian EDK sebesar 4,5 g/l air, maka jumlah ayam yamg mempunyai kelainan kaki menurun menjadi 752-1502 ekor.



Pengaruh Negatif Daun Katuk

Selain pengaruh positif, penggunaan daun katuk juga menyebabkan pengaruh negatif seperti dapat menyebabkan keguguran. Daun katuk mengandung alkaloid papaverin yang dapat menimbulkan rasa pusing, mabuk dan konstipasi. Namun, senyawa ini tidak selalu ada dalam daun katuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EDK sebesar 18 g/kg ransum menghasilkan warna daging dada yang lebih pucat. Selain itu, daun katuk mengandung banyak Kristal kalsium oksalat bentuk roset, sehingga bagi penderita penyakit batu ginjal daun katuk berbahaya dikonsumsi sebagai sayuran.

Hasil penelitian di Taiwan mennunjukkan bahwa penggunaan jus daun katuk yang dibuat dari daun segar selama 10 minggu dapat mengakibatkan gagal nafas pada manusia. Untuk itu dianjurkan agar mengkonsumsi daun katuk yang telah dimasak, karena pengaruh negatifnya hilang.



Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut, maka daun katuk sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan obat alami untuk memperlancar ASI, menurunkan lemak, pelangsing tubuh, obat mencret, bisul, borok, penyakit mata karena kekurangan vitamin A pada manusia, dan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pada ternak.



Daftar Pustaka

Agustal, A., M. Harapini dan Chairul. 1997. Analisis kandungan kimia ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (L) Merr dengan GCMS. Warta Tumbuhan Obat 3 (3): 31-33.

Anonimus. 1986. Medicinal herbs index in Indonesia. PT Eisal Indonesia. Hal. 134.

Anonimus. 1989. Vademekum bahan obat alam. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hal. 53-54.

Astuti, N., B. Wahjoedi dan M. W. Winarno. 1997. Efek diuretik infus akar katuk terhadap tikus putuh. Warta Tumbuhan Obat 3 (3): 42-43.

Darise, M dan Sulaeman. 1997. Ekstraksi komponen kimia daun katuk asal Sulawesi Selatan berbagai metode serta penelitian daya hambat terhadap bakteri uji. Warta Tumbuhan Obat 3 (3): 37-38.

Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar fisiologi tumbuhan. Cetakan ke I. Gramedia. Jakarta. Hal. 13.

Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta.

Gusmawati. 2000. Pengaruh lama pemberian ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap performans dan organ dalam serta Income Over Feed Cost broiler. Skripsi S 1. Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna Indonesia. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan. Hal. 1144-1145.

Januwati, M. 1992. Beberapa tumb uhan penunjang program ASI di Jawa. Prosiding Seminar Etnobotani 415-419.

Ketaren, S. 1986. Pengantar Tekonologi Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press, Jakarta.

Robinson, T. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung.

Santoso, U. 1997. Effect of early feed restriction-refeeding on growth, body composition and lipid accumulation in mixed-sex broiler. Research Report. ITSF, Jakarta.

Santoso, U. 1998. Effect of early feed restriction on growth, body composition and lipid accumulation in mixed-sex broiler. Research Report. Bengkulu University, Bengkulu.

Sidik. 1994a. pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai sumber genetic bagi bioindustri (Pembahasan Makalah Boenyamin Setiawan). Lokakarya Nasional Keanekaragaman Hayati Tropik Indonesia. Dewan Riset Nasional.

Sidik. 1994b. Pengembangan industry fitofarmaka di Indonesia. Lokakarya Nasional Keanekaragaman Hayati Tropik Indonesia. Dewan Riset Nasional.

Siemonsma, J. S. and K. Piluek. 1994. Plant Resources of South-East. Prosea. Pages. 244-246.

Suprayogi, A. 1993. Meningkatkan produksi susu kambing melalui daun katuk (Sauropus androgynus (L) Merr). Agrotek 1 (2): 61-62.

Sutedja, L., L. B. S. Kardono dan H. Agustina. 1997. Sifat Antiprotozoa daun katuk (Sauropus androgynus Merr). Warta Tumbuhan Obat 3(3): 47-49.

Syamsuhidayat, S. S. dan J. R. Hutapea. 1985. Inventaris Tanaman Obat Indonesia.

Yahya, Y., A. Nasoetion dan F. Anwar. 1992. Pengaruh pengolahan dan kandungan vitamin C terhadap penyerapan zat besi (Fe) dengan cara in vitro pada beberapa jenis sayuran daun hijau. Media Gizi dan Keluarga 16 (1) : 11-17.

Yasil, H. 1997. Penelitian pengaruh daun katuk terhadapat frekuensi dan lama menyusui bayi. Warta Tumbuhan Obat 3 (3): 41-42.

Yulianis, S. dan T. Marwati. 1997. Tinjauan katuk sebagai bahan makanan tambahan yang bergizi. Warta Tumbuhan Obat 3 (3): 55-56.



Lampiran 1. Gambaran Teknologi yang Akan Diterapkan

a. Teknologi Ekstrak Daun Katuk untuk Ayam Petelur

Daun katuk segar dikeringkan selama 2-3 hari. Untuk menghindari kerusakan daun katuk, maka setiap 6 jam daun katuk dibalik. Setelah kering daun katuk kemudian digiling halus. Tepung daun katuk ini bisa langsung diberikan kepada ayam petelur. Untuk meningkatkan daya gunanya, maka daun katuk di ekstraksi. Caranya tepung katuk direbus dalam wadah yang terbuat dari tanah atau dari bahan yang inert (tidak bereaksi dengan bahan obat) selama 20 menit pada suhu 90oC. perbandingan tepung katuk dengan air adalah 1:5. Setelah itu air rebusan dan daunnya diperas dan disaring dengan kain kasa. Ampasnya kemudian direbus kembali (diulang 3x). air perasan tersebut kemudian dikeringkan pada suhu 50oC selama 36 jam. Gumpalan ekstrak yang diperoleh kemudian digiling dan dibuat tepung. Tepung ekstrak disimpan dalam kantong plastik sebelum digunakan.

b. Teknik Pencampuran ekstrak daun katuk dalam pakan ayam petelur

penggunaan ekstrak untuk ayam petelur adalah 9 g/kg pakan. Oleh karena pencampuran ekstrak ke dalam pakan dalam jumlah yang kecil, maka dalam pencampurannya harus dilakukan bertahap. Sebagai misal, kita akan mencampur ekstrak tersebut ke dalam 20 kg pakan. Tahap pertama, kita hitung ekstrak yang diperlukan untuk 20 kg pakan yaitu 9 g x 20 = 180 g ekstrak . 180 g ekstrak dicampur dengan 360 g pakan membentuk 540 g campuran. 540 g campuran tersebut kemudian dicampur dengan 540 g pakan yang belum dicampur dengan ekstrak daun katuk dan kemudian dicampur merata. Demikian seterusnya dengan perbandingan campuran ekstrak + pakan dengan pakan 1:1.

c. Pemberian pakan ke ayam petelur

Sistem pemberian pakannya tidak berbeda dengan sistem pemberian pakan pada ayam petelur.

This entry was posted on Monday, August 24th, 2009 at 1:13 am and is filed under Animal Science, Katuk (Sauropus), Kesehatan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
di copy paste dari : http://uripsantoso.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar